cari yang ingin kamu baca

Sabtu, 07 Januari 2012

Max Weber - Etika Protestan


Maximilian Carl Emil Weber (21 April 1864-14 Juni 1920) adalah seorang pengacara Jerman, politikus, sejarawan, sosiolog dan ekonom politik. Weber lahir di Erfurt di Thüringen, Jerman, anak tertua dari tujuh bersaudara dari seorang ayah bernama Max Weber Sr, seorang politikus kaya dan terkemuka di Partai Liberal Nasional (Jerman) dan seorang pegawai negeri, serta seorang ibu bernama Helene Fallenstein, seorang Protestan dan Calvinis, dengan ide-ide absolut moral yang kuat. Weber tumbuh dalam suasana intelektual keluarganya sehingga dalam usia 14 tahun ia sudah mampu menulis surat yang dipenuhi dengan referensi karya-karya Homer, Virgil, Cicero, dan Livy. Ia memiliki pengetahuan yang sangat luas tentang  Goethe, Spinoza, Kant, dan Schopenhauer sebelum ia masuk Universitas Heidelberg pada jurusan hukum yang kemudian dilanjutkan di Universitas Berlin pada jurusan ilmu-ilmu sosial.
Weber bersama Karl Marx dan Emile Durkheim dianggap sebagai pendiri sosiologi modern, meskipun pada masanya ia lebih dikenal sebagai sejarawan sekaligus ekonom. Ia berfokus pada sosiologi industri sebelum akhirnya berpindah pada ranah sosiologi agama dan sosiologi negara. Menurut Weber, sosiologi merupakan suatu  ilmu yang berusaha memberikan pengertian tentang aksi-aksi sosial untuk memperoleh gambaran dan pengaruhnya. Dalam hal ini ia berusaha mendefinisikan mengenai kelakuan-kelakuan manusia dan sekaligus menelaah sebab-sebab terjadinya interaksi sosial.
Disamping terkenal dengan metode “pengertian”nya (method of understanding), Max Weber juga terkenal dengan teori ideal typus-nya, yakni suatu konstruksi dalam pikiran seorang peneliti yang dapat dipergunakannya sebagai suatu alat untuk menganalisa gejala-gejala dalam masyarakat.
Karya utamanya berhubungan dengan rasionalisasi dalam sosiologi agama dan pemerintahan, meski ia sering pula menulis di bidang ekonomi. Karya Weber paling populer adalah The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Buku ini kemudian menjadi dasar dari penelitiannya tentang sosiologi agama. Weber berpendapat bahwa agama adalah salah satu alasan utama bagi perkembangan yang berbeda antara budaya Barat dan Timur. Ia menggambarkan agama sebagai fenomena yang rumit dan kompleks yang dapat memenuhi beberapa fungsi sekaligus. Karenanya, agama mempunyai beberapa macam dimensi, yaitu dimensi kepercayaan/keyakinan beragama, dimensi ritual keagamaan, dimensi, pengalaman keagamaan, dimensi pengetahuan yang berkaitan dengan keberadaan fakta-fakta agama, dan dimensi konsekuensi/ketaatan dalam beragama.
Argumen Weber tentang asal-usul kapitalisme modern merupakan salah satu argumen yang paling berpengaruh dalam sejarah ilmu sosial, yang memancing pembuktian dan penyangkalan oleh para sosiolog, sejarawan, ahli psikologi, ekonom, dan antropolog pada abad ke-20. Persoalan utama yang ia kaji berkenaan dengan mengapa Revolusi Industri, modernisasi ekonomi, dan kapitalisme borjuis pertama-tama muncul di Barat, dan terutama dalam masyarakat-masyarakat Barat yang Protestan ketimbang Katolik, dan bukan di tempat lain.
Weber menyatakan bahwa perubahan hukum dan perdagangan, perkembangan kelembagaan, dan penemuan-penemuan teknologi di Eropa itu sendiri tidak memadai sebagai suatu penjelasan yang memuaskan; masyarakat-masyarakat yang lain telah mengembangkan perbankan, lembaga kredit, dan sistem hukum, serta fondasi-fondasi ilmu pengetahuan, matematika, dan teknologi. Ia melihat bahwa syarat-syarat materiil bagi kapitalisme terdapat di banyak peradaban awal, termasuk munculnya kelas pedagang yang terlibat dalam perdagangan dan perniagaan di China, Mesir, India, dan dunia lama, jauh sebelum Reformasi Protestan. Namun, menurut Weber, apa yang tidak ada pada semua itu, adalah etos budaya yang khas dan khusus. Bagi Weber, nilai-nilai yang terkait dengan Reformasi Protestan dan doktrin-doktrin Calvinis-lah yang melahirkan semangat kapitalisme Barat. Protestantisme asketis mendalilkan bahwa orang memiliki kewajiban untuk bekerja dengan rajin, untuk menghasilkan keuntungan finansial, dan menabung dengan hati-hati. Tujuan bekerja dan mengumpulkan sumber daya bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan materiil minimal, apalagi untuk menghamburkan keuntungan pada kemewahan materiil dan kesenangan hedonistik duniawi dalam hidup, namun bekerja dilihat sebagai suatu kewajiban moral yang dijalankan demi dirinya sendiri: “Sebaliknya, kerja harus dijalankan seolah-olah ia pada dirinya sendiri adalah suatu tujuan absolut, suatu panggilan.”
Etika Protestan menafsirkan aktivitas-aktivitas etis bukan sebagai asketisme monastik yang menolak kehidupan ini, melainkan lebih sebagai pemenuhan kewajiban-kewajiban duniawi. Dengan demikian, menurut Weber, kebajikan-kebajikan seperti kerja keras, semangat berusaha, dan ketekunan merupakan fondasar budaya utama bagi pasar dan investasi kapitalisme: “Kejujuran bermanfaat, karena ia menjamin penghargaan; demikian juga ketepatan waktu, industri, kesederhanaan, dan itulah alasan mengapa mereka adalah kebajikan-kebajikan.” Oleh karena itu etika Protestan oleh Weber dipahami sebagai serangkaian keyakinan moral yang unik tentang kebajikan-kebajikan kerja keras dan perolehan ekonomi, perlunya inisiatif kepengusahaan individu, pahala-pahala Tuhan yang adil. Nilai-nilanya yang khusus menekankan disiplin-diri, kerja keras, kebaikan menabung, kejujuran pribadi, individualisme, dan kemandirian, yang semuanya dianggap menghasilkan syarat-syarat budaya yang paling kondusif bagi ekonomi pasar, usaha pribadi, dan kapitalisme borjuis di Barat.
Keyakinan-keyakinan keagamaan dapat diruntuhkan terutama oleh efek dari pendidikan yang meningkat dan kesadaran kognitif yang semakin kuat menyangkut rasionalitas manusia, seperti yang dikemukakan teori Weberian. Karena negara-negara dengan akses yang luas pada pendidikan, universitas, dan kemampuan baca-tulis biasanya juga memiliki tingkat kemakmuran dan kesehatan yang lebih tinggi serta tingkat pertumbuhan populasi yang lebih rendah, maka sulit, jika bukan mustahil, untuk menguraikan efek-efek ini dengan tujuan untuk mengisolasi dampak individual dari keamanan eksistensial per se yang kami anggap mendasari semua faktor ini. Namun tidak terdapat korelasi langsung pada tingkat individual antara kepercayaan pada ilmu pengetahuan dan religiusitas.
Dalam karya lainnya, Politics as a Vocation, Weber mendefinisikan negara sebagai sebuah lembaga yang memiliki monopoli dalam penggunaan kekuatan fisik secara sah, sebuah definisi yang menjadi penting dalam studi tentang ilmu politik Barat modern.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar