cari yang ingin kamu baca

Sabtu, 17 Maret 2012

Bidan Inspirasional Indonesia

Kategori Tantangan Budaya:
1. Bidan Meiriyastuti - Jambi
Meiriyastuti, perempuan berusia 32 tahun ini termasuk bidan muda di Desa Teriti, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi. Meski masih muda, ia tak gentar berhadapan dengan masyarakat menjawab tantangan budaya setempat. Bukan perkara mudah bagi bidan muda untuk mengubah persepsi di masyarakat mengenai penanganan persalinan yang keliru, bahkan merugikan kesehatan ibu dan bayi.

Ritual pascapersalinan membudaya di masyarakat yang tinggal di tepian sungai Batanghari. Salah satunya ritual "Nyebur ke Ayek". Ritual ini mengharuskan bayi berusia tujuh hari untuk dimandikan air kembang di sungai Batanghari yang dingin. Sementara, pascamelahirkan, ibu hanya boleh mengonsumsi nasi putih dan kecap asin selama 40 hari. Ibu pantang makan sayuran dan ikan, karena dianggap akan mendatangkan penyakit pada bayi.

Meiriyastuti mendapatkan penghargaan Bidan Inspirasional Srikandi Award 2011, atas konsistensinya melakukan pendekatan kepada masyarakat selama 11 tahun untuk memodifikasi tradisi. Yakni, mengajak masyarakat memandikan bayi, tetap dengan bunga, namun berisi air hangat yang ditampung dalam baskom.

2. Bidan Sri Ariati - Majene, Sulawesi Barat

Lain lagi dengan bidan Sri Ariati yang mengabdi di Kelurahan Banggae, Majene, Sulawesi Barat. Kebiasaan masyarakat lokal yang menimbulkan risiko terhadap kesehatan ibu pascapersalinan berhasil diubahnya. Sebelumnya, masyarakat setempat taat pada adat yang mengharuskan ibu pascamelahirkan untuk mengangkat air dari sumur ke rumah.

Menggunakan bahasa Mandar, bidan Sri mengajak masyarakat Banggae untuk mulai meninggalkan tradisi ini. Ia berhasil melakukan pendekatan kepada dukun beranak atau disebut Sando, yang jumlahnya dua kali lipat dari jumlah bidan di daerah tersebut. Sosok bidan Sri tak asing di tengah masyarakat Banggae. Atas kontribusinya, ia pun dinilai layak menerima penghargaan Bidan Inspirasional Srikandi Award 2011.

3. Bidan Rosalinda Delin - Belu, Nusa Tenggara Timur

Desa Jenilu, Kecamatan Kakuluk Atapupu, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur berlokasi 12 kilometer dari perbatasan Timor Leste. Di desa ini, masyarakat setempat mengenal budaya panggang api pasca persalinan. Selama 40 hari pascapersalinan, ibu dan bayi di Jenilu harus melakukan ritual panggang api yang berisiko menimbulkan anemia pada ibu, dan mengganggu pernafasan bayi.

Adalah bidan Rosalinda Delin yang menggerakkan sosialisasi dari rumah ke rumah mengenai risiko ini. Perlahan, masyarakat mulai meninggalkan budaya panggang api. Atas perjuangannya, penghargaan Bidan Inspirasional Srikandi Award 2011 diberikan kepadanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar